Friday, May 08, 2009

Menyambung Sillaturrahmi dan Shalat Malam

Ajakannya tak pernah mereka lupakan. Karena, ajakan itu senantiasa membawa kebahagiaan, kemuliaan, dan kuatnya ikatan persaudaraan. Tak ingin kehidupannya, dipenuhi dengan benih-benih yang menimbulkan retaknya persaudaraan. Persaudaraan diantara mereka. Sampai terbersit cahaya Islam, yang begitu indah, menghiasa kehidupan umat manusia.

Suatu ketika, Abu Yusuf Abdullah bin Salam mengatakan, bhwa ia mendengar Rasalulullah shallahu alaihi was salam, bersabda, “ Wahai manusia, sebarkanlah salam, berilah makan, sambunglah silaturahmi, dan shalatlah pada malam hari, ketika orang-orang sedang tidur, agar kalian masuk surge dengan selamat”. (HR.at-Tirmidzi)

Dan, ketika itu, orang-orang di Madinah, begitu menengadahkan wajahnya, dan memandang Rasulullah shallahu alaihi wassalam, saat beliau menyampaikan khotbahnya, “Tebarkanlah salam”. Lalu, para shahabat memahami bahwa jadikanlah salam tersebar diantara mereka. Maksudnya, agar salam itu, saling menyebar diantara para shahabat dalam semua perjumpaan, sekaligus sebagai tanda atau bukti kesatuan hati diantara mereka. Sehingga, keamanan dan kedamaian merata diantara penduduk di kota Madinah.

Abu Yusuf Abdullah mengingatkan kepada para shahabat lainnya, betapa pentingnya salam itu, dan begitu juga menyebarkan kepada seluruh kaum mu’minin. Shahabat itu, juga mengingatkan, bahwa Allah itu juga disebut sebagai ‘as-Salam’, dan surga adalah Daarus-Salam, begitu ujar Yusuf Abdullah, yang senantiasa mengingat apa yang disampaikan Rasulullah shallahu alaihi wassalam.
Allah Ta’ala berfirman : “ Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa) ..(an-Nisa’ : 86)

Maka, Abdullah bin Amru ibnul Ash, menuturkan bahwa seorang pria menanyai Rasululullah shallahu alaihi wassalam, “Apa yang terbaik dalam Islam?”. Kemudian beliau menjawab,”Kamu member makan dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal atau tidak kamu kenal”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Maksud berilah makan adalah jadilah orang yang dermawan, jangan menjadi orang yang bakhil, karena sebagaimana sabda Rasululullah shallahu alaihi wassalam, “Orang dermawan itu dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dekat dengan surga, dan jauh dari neraka, sedangkan orang bakhil jah dari Allah, jauh dari manusia, jauh dari surga, dan dekat dengan neraka”.

Karena itu, shahabat Addi bin Hatim, pernah menyampaikan, bahwa Rasululullah pernah bersabda, “HIndarilah neraka dengan sebutir kurma”. (HR.Bukhari Muslim). Begitulah Islam. Dan, semua ajaran Islam itu, diamalkan oleh para shahabat dengan ikhlas. Adi bin Hatim tak pernah melewatkan dirinya, setiap hari dari sedekah. Ia usai shalat Shubuh berkeliling mencari orang-orang yang fuqara’, lalu ia memberikan sedekahnya. Ketika, ia dapat memberikan sedekah kepada fakir miskin, ia seperti mendapatkan sebuah kebahagiaan, yang tak terhingga, wajahnya berseri ketika ia bertemu dengan para fakir miskin dan ia dapat menyedekahi mereka. Subhanallah.

Abu Hurairah meriwayatkan dari sabda Rasululullah, bahwa, “Setiap pagi ada dua malaikat turun. Salah satunya berdo’a, “Ya Allah,berilah ganti untuk orang yang berinfak”. Malaikat yang lain berdo’a, “Ya Allah, berilah kehancuran untuk orang yang menahah hartanya”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Karena itu, ketika baginda Rasululullah shallahu alaihi wassalam, wafat, tak ada sisa harta yang dimilikinya, semua beliau berikan kepada jalan da’wah, dan para fuqara dan masakin. Hal ini, diikuti para shahabat, seperti Abu Bakar, Umar, Ustman, dan Ali. Mereka saling berlomba menginfaqkan harta mereka dijalan Allah.

Suatu ketika Rasululullah shallahu alaihi wassalam, menegur Abu Bakar, yang menginfaqkan seluruh hartanya, ketika menjelang perang Badr. Lalu,Rasululullah shallahu alaihi wassalam, bertanya kepada Abu Bakar, “Wahai Abu Bakar, mengapa seluruh harta milikmu engkau infaqkan? Sedangkan apa yang akan engkau berikan untuk keluargamu?”. Dan, Abu Bakar menjawabnya, “Aku masih mempunyai Allah dan Rasul”, jawab Abu Bakar.

Begitulah generasi Shalaf terdahulu, bagaimana mereka mensikapi terhadap harta, yang mereka miliki, dan mereka tidak terpengaruh oleh harta mereka. Dan, seluruh harta mereka gunakan untuk fi sabilillah. Wallahu ‘alam.

Asma-ul Husna

Judul Indonesia : Asma-ul Husna

Pengarang : Ibnu Qayyim Al-jauziyah

Penerbit : Pustaka Al-Kautsar

Jumlah halaman : 316

Para ulama membagi tauhidullah (mengesakan Allah) kepada tiga bagian, Pertama, tauhid Rububiyah, yaitu mengakui bahwa Allah satu-satunya Dzat yang menciptakan, mengatur seluruh makhluk, menghidupkan dan mematikan. Kedua, tauhid Uluhiyyah, yaitu meyakini bahwa Allahlah satu-satunya Dzat yang wajib diibadahi dengan hak, baik lisan, hati, maupun anggota badan. Dan yang ketiga tauhid Asma wa sifat, yaitu menetapkan nama-nama dan sifat-sifat bagi Allah sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Allah dalam kitab-Nya dan oleh Rasulullah dalam sunnahnya tanpa mempersamakannya dengan makhlukNya, menakwilkannya dan menghilangkan artinya.

Jika ditanyakan kepada orang-orang Jahiliyah, siapakah yang menciptakan langit dan bumi, mereka pasti menjawab, yang menciptakan semua itu adalah Allah. Demikianlah Al-Quran menuturkannya. Namun demikian, mereka tetap disebut sebagai orang-orang yang sesat dan bodoh karena mereka tidak mentauhidkan Allah dalam ibadah, baik ibadah hati, lisan maupun ibadah anggota badan. Dengan kata lain, mereka tidak memiliki tauhid Uluhiyyah yang benar.

Dan barang siapa kafir maka kekafirannya itu janganlah menyedihkanmu. Hanya kepada Kami-lah mereka kembali, lalu Kami beritakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati. Kami biarkan mereka bersenang-senang sebentar, kemudian Kami paksa mereka (masuk) ke dalam siksa yang keras. Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah". Katakanlah: "Segala puji bagi Allah"; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi. Sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (QS. Luqman: 23-26)

Demikian juga orang-orang jamhiyah, qadariyyah, jabariyyah, dan Muktazilah disebut sebagai orang-orang yang sesat, mulhid dan zindiq karena kesalahpahaman mereka dalam meyakini Asma dan sifat Allah.

Buku yang ditahlik oleh Yusuf Ali Budaiwi dan Amin Abdul-Rozak Syawwa ini hadir sebagai salah satu sarana untuk mengenal Allah dengan baik, memahami sifat-sifat-Nya dengan benar, dan meningkatkan ma’rifah kita kepada keagungan Allah subhanahu wata’ala berdasarkan pemahaman Al-Quran dan Sunnah yang mulia, sebagaimana Allah menjelaskannya, para Nabi mengajarkannya, dan sebagaimana para sahabat dan ulama-ulama yang hanif memahaminya. Buku yang penuh cahaya.

Saat kita menelusuri lembaran demi lembaran buku ini, semakin kita tersadar, bahwa sangat sedikit yang kita tahu mengenai Allah, Tuhan semesta alam, yang kita ibadati, yang kepadaNya kita memanjatkan doa dan mengadukan persoalan.

Di sisi lain, dengan membaca penjelasan demi penjelasan di buku ini, maka kita akan semakin mengerti pula mengenai hakikat diri sebagai seorang manusia, sebagai salah satu mahkluk-Nya, sebagai seorang hamba, yang diciptakan untuk beribadah kepada-Nya.

---000---

Jakarta, 10 April 2009

Syamsul Arifin