Tuesday, August 17, 2010

Siapa aku, menurutku

Aku dilahirkan disebuah ibukota provinsi di bagian paling barat pulau kalimantan, atau yang dulu sering terkenal dengan pula Borneo. Pulau terbesar di Indonesia. Kota itu terkenal dengan garis khatulistiwanya, sebab ia dilewati persis oleh garis lintang yang membagi bumi menjadi dua bagian tersebut. Pontianak nama kota itu.

Aku adalah seorang anak yang biasa, dari ayah seorang pegawai biasa dan ibu seorang guru biasa.
Aku pernah bercita-cita tinggi sekali, ingin menguasai ilmu agama dan ilmu umum seperti halnya para cendikiawan muslim terdahulu. Seperti Ibnu Sina, Al-Khwarizmi. Ya..aku pernah bercita-cita ingin seperti Al-Khwarizmi, bapak Matematika islam yang telah menemukan angka nol yang sangat berarti buat dunia matematika. Beliau tidak hanya mumpuni di bidang eksakta, tapi kemampuannya di bidang agama juga tidak kalah tingginya. Hafal Quran dan menguasai ilmu fiqih dan syariah.

Aku dulu sangat gemar bersekolah, sampai-sampai orangtuaku kewalahan dengan kemauan kerasku untuk pergi ke sekolah, walaupun waktu itu umurku baru 3,5 tahun. Dan akhirnya aku dimasukkan ke sebuah TK (Taman Kanak-kanak) untuk meredam keinginanku yang menggebu-gebu untuk bersekolah. Aku kemudian masuk ke SD (Sekolah Dasar) dalam umur yang relatif muda pada waktu itu, 5,5 tahun, dimana saat itu ukuran standar masuk SD masih 7 tahun. Aku sebetulnya pada awalnya hanya sebagai murid titipan, yang cuma ikut bersekolah, berhubung ibuku juga mengajar di SD yang sama. Namun, ternyata kemampuanku bisa menandingi anak2 yang usianya lebih tua dariku. Bahkan aku pernah ingat, satu saat aku bisa menjawab sebuah pertanyaan yang diajukan oleh seorang guru, padahal tak seorangpun di dalam kelas yang bisa menjawabnya. Setelah melihat kemampuanku dalam mengikuti pelajaran, akhirnya statusku tidak lagi menjadi siswa titipan, akan tetapi sudah langsung menjadi siswa penuh, alias berhak mendapat rapor dan naik ke kelas yang lebih tinggi. Jadilah aku satu-satunya murid yang umurnya paling muda di kelas.
Kesukaanku bersekolah ditunjukkan pula oleh prestasiku semasa duduk di bangku SD. Mulai dari kelas satu sampai enam SD, peringkat juara satu tidak pernah lepas dari tanganku. Kalaupun ada murid yang setingkat kemampuannya denganku, maka nilainya hanya bisa menyamaiku, dan jadilah kami sebagai juara satu bersama.

Demikian pula ketika aku melanjutkan sekolahku ke jenjang SMP. Prestasiku tidak pernah turun dari peringkat satu di kelas. Waktu itu aku sudah tidak lagi tinggal bersama ayah dan ibuku, tapi dititipkan kepada pamanku di ibukota provinsi, Pontianak nama kota itu seperti yang telah kutulis di paragraf teratas.
Prestasi tersebut kuraih salah satunya karena kecintaanku akan pelajaran dikelas, terutama Matematika. Aku selalu merasa 'enjoy' dalam memahami setiap pelajaran demi pelajaran di kelas. Selain Matematika, pelajaran favoritku yang lain adalah biologi, bahasa Indonesia, dan Fisika.
Disamping mengikuti pelajaran di kelas, beberapa kegiatan ekstra kurikuler disekolah sudah pernah kucoba. Diantaranya Karate, Pramuka dan PMR (Palang Merah Remaja). Kegiatan Pramukalah yang kemudian mengantarkanku ke kota Jakarta untuk pertama kalinya, saat kelas dua SMP, untuk mengikuti Jambore Nasional (JAMNAS), pada tahun 1991. Masih kuingat kebanggan ibuku yang mengantarkanku ke dermaga pelabuhan pontianak, dengan raut wajah bangga sekaligus cemas, beliau melepasku menjalani petualangan pertamaku sebagai seorang pramuka. Sebuah pengalaman yang sangat berkesan bagiku, bahkan Mars dan Hymne Jamnas pada waktu itu, masih kuingat hingga saat ini. Kami naik sebuah kapal penumpang kecil ke Jakarta.Perjalanan waktu itu membutuhkan waktu tiga hari tiga malam. Dan berhubung itu adalah perjalanan lautku yang pertama, tak heran jika dalam dua hari pertama aku mabuk dan muntah, mengeluarkan seluruh isi perutku di geladak kapal. Tanpa sepengetahuan teman2ku tentunya, sebab aku malu dikatakan pramuka yang 'lemah' karena tak tahan mabuk di kapal. :)
Dalam kegiatan karate, aku juga cepat meraih kenaikan tingkat. Dalam waktu dua tahun, sejak aku ikut pertama kali di kelas satu SMP, aku sudah mencapai sabuk coklat, satu tingkat dibawah sabuk hitam. Namun sayang, penyakit typhus yang tiba-tiba menyerangku saat kenaikan ke kelas 3 SMP, membuatku harus lepas sabuk karena tidak bisa latihan keras lagi. Dan akhirnya dunia karate terpaksa harus kutinggalkan, walaupun aku sempat ikut satu kejuaraan tingkat daerah mewakili rantingku, dalam perlombaan kata, waktu itu. Aku menyukai kata, karena keindahan gerakannya dan seni karate yang kucintai.
Beberapa tahun setelah itu, aku masih tetap hafal dengan 6 jenis kata (jurus) dalam karate sampai2 aku mampu mengajak teman2ku mendemonstrasikannya saat duduk di kelas 6 KMI Gontor, yang nanti akan kuceritakan lebih lanjut.
Masa SMP adalah salah satu masa yang indah buatku dan menurutku. Walaupun saat itu aku tidak tinggal bersama orang tuaku, kecuali setelah aku berada di kelas 3 SMP. Selama setahun aku tinggal bersama mereka, lalu setelah itu aku merantau ke tanah jawa, melanjutkan ambisiku untuk menguasai ilmu agama lebih dulu.
Ya, aku juga tidak tau persisnya mengapa tiba-tiba aku memutuskan untuk melanjutkan sekolahku ke sebuah pesantren, bukan ke SMA Negeri yang selalu diimpikan oleh banyak siswa2 SMP seumurku.
Yang ku ingat, suatu saat ada seorang ustadz yang diundang memberikan ceramah di SMP-ku dan menceritakan bahwa beliau adalah alumni gontor, yang tiba-tiba mengingatkanku kembali pada keinginanku sewaktu SD dulu, untuk masuk pesantren. Beliaulah yang kemudian membawaku bersama teman-teman baruku yang lain, yang ingin masuk ke Gontor, ke tanah jawa, dan mulai saat itu petualangan hidupku yang sebenarnya dimulai.

oya, tarnus. Aku pernah difavoritkan oleh guru2ku dan kepala sekolahku untuk ikut seleksi masuk SMA Taruna Nusantara, yang pada waktu itu sedang jaya-jayanya. Sampai dikatakan, sampai celana dalam pun semuanya ditanggung oleh sekolah tersebut. Aku tak tau, apakah informasi yang salah, ataukah memang kenyataan, mendengar bahwa sekolah tersebut dimiliki oleh seseorang yang bukan muslim, aku malah justru tidak berminat untuk lulus seleksi tersebut, bahkan tawaran guru olahragaku untuk berusaha menaikkan berat badanpun tidak kugubris. Dan jadilah kenyataannya, aku tidak lolos saat seleksi fisik.

Kembali saat aku lulus SMP. Niatku sudah bulat, masuk pesantren, tepatnya ke Gontor. Masih kuingat, ngga tau kenapa, waktu itu, setiap kudengar nama Gontor, dadaku bergetar, membayangkan kemegahannya, dan membayangkan betapa orang-orang besar yang mempengaruhi sejarah indonesia berasal dari pesantren tersebut, sebut saja Idham Kholid, Nurkholis Majid, Din Syamsudin, dan banyak orang-orang besar lainnya.
Walaupun, berhubung kurikulum yang mengikuti bulan Hijriyah, akhirnya aku tidak bisa langsung masuk kesana setelah lulus SMP. Akhirnya setelah beberapa hari aku tinggal di pesantren Ar Risalah Mlarak, Ponorogo, aku diboyong oleh ayahku ke Pesantren Darunnajah di Jakarta. Disana aku tinggal bersama salah satu keluarga Ayah di Depok. Mereka keluarga yang sangat baik padaku, aku berkenalan dengan tiga sepupuku dan salah satunya bersama2 denganku masuk ke Darunnajah. Di Darunnajah aku pertama kali mengenal bahasa arab, dan sangat terkesan sekali dengan cara mengajar ustadz favoritku dalam memahamkan anak didiknya menguasai bahasa arab. Belakangan aku bersyukur krn sempat mampir dulu disini sebelum ikut tes ke Gontor. Walaupun waktu itu aku sebetulnya langsung diterima di kelas 1 Aliyah,tidak lewat kelas experiment, namun krn takut tidak menguasai bahasa arab, akhirnya aku minta kelasku diturunkan ke kelas 1 experiment. Dan barulah aku bisa beradaptasi dalam pelajaran bahasa arab, walaupun harus mulai dari nol.
Di pesantren Darunnajah, aku terkena cacar, dan berkat perawatan bibi di depok, yang menyayangiku seperti anak2nya, akhirnya aku bisa sembuh.
Belum genap setahun di Darunnajah, aku memutuskan untuk ke Gontor sendiri, untuk ikut tes masuk. Waktu itu yang dites adalah Dikte/Imla, baca Quran dan Berhitung. Untunglah, karena aku senang matematika, dan aku sudah sempat belajar bahasa Arab di Darunnajah, alhamdulillah, aku dinyatakan lulus, masuk di kelas Tajribiyah (experiment) 1 B. Kelas tertinggi yang ada di pondok.
Waktu itu, banyak siswa yang ditemani orang tuanya mendengarkan hasil seleksi. Namun berhubung jarak yang jauh, orangtuaku tidak dapat hadir. Aku merayakan kelulusan tesku sendiri dengan bersujud, menangis mensyukuri karunia Allah yang mengizikan aku belajar salah satu pesantren terbesar dan ternama di indonesia.
Pendidikan di pondok kulalui selama 4 tahun. Banyak suka dan duka kualami, dan banyak sekali pengalaman hidup yang kureguk selama menjalani kehidupan di penjara suci ini.
Di kelas lima, aku sempat minta pulang ke Ayah, namun ayah kembali menanyakan keputusanku dulu, dan komitmenku yang sudah memilih, dan resikonya aku juga harus bisa menanggungnya sampai selesai.
Alhamdulillah, akhirnya aku menabahkan diriku dan mengikuti ujian akhir kelas enam, dan akhirnya akupun bisa lulus, dengan derajat mumtaz. Satu langkah kecil sudah kulewati untuk mewujudkan cita-citaku.
Aku pernah bercita-cita untuk melanjutkan pendidikanku ke Madinah, namun niatku kandas saat kudengar tidak ada Dauroh untuk memberikan beasiswa ke madinah lagi pada tahun itu.
Akhirnya aku banting setir ke pendidikan umum. Aku mulai lagi mengumpulkan tekadku untuk menguasai ilum umum. Cita-citaku sekarang adalah ke ITB. Perguruan tinggi terbaik di Indonesia, pada waktu itu.
Berbekal tekad,aku pergi sendiri ke Bandung, bertemu dengan ...(to be continued)

-------------
By Mee